Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar merupakan kebutuhan pokok mahasiswa karena makalah merupakan suatu karya ilmiah wajib bagi mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di perguruan tinggi. Sebagian besar dosen di berbagai Perguruan tinggi, seringkali menugaskan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah berupa makalah.

Seringkali, mahasiswa merasa kesulitan karena banyaknya tugas makalah yang dibebankan kepadanya.  Hal ini disebabkan oleh pembuatan makalah yang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari mengumpulkan materi, mencari referensi materi sampai mengetiknya. Hal tersebut jelas memakan banyak waktu. Hal tersebut pula yang menjadikan mahasiswa cenderung frustasi. Dengan demikian, mereka perlu mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar di internet.

Dewasa ini, internet menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak terkecuali kebutuhan mahasiswa dalam membuat makalah. Mahasiswa sering kesulitan untuk membuat makalah dan sering kebingungan dalam menyusun makalah.

Oleh karena itu, mahasiswa banyak memanfaatkan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar dari portal-portal yang bertebaran di internet. Buat anda best jobbers yang yang sedang mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,

di bawah ini portal bestjobaroundtheworld.com akan memberikan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar secara lengkap mulai dari Pendahuluan, pembahasan, penutupan daftar isi dan dilengkapi pula dengan footnote dari sumber yang sangat jelas dan terpercaya.

Contoh Makalah Gangguan Kepribadian

Contoh Makalah Yang Baik dan benar
source :Amen Clinics

Contoh Makalah yang Baik Dan Benar dengan tema pembahasan Gangguan Kepribadian di bawah ini kami berikan kepada Best Jobbers semua . Di sini kita akan bersama-sama belajar tentang membuat Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Contoh Pendahuluan

source: Hello Sehat

Pada dasarnya, pendahuluan berisi tentang gambaran umum tema pembahasan dalam makalah. Dalam Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,  pendahuluan  minimal berisikan beberapa sub bab. Sebuah Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar , minimal berisi 3 sub bab, yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan.

1. Latar Belakang Masalah

Kepribadian adalah watak  atau temperamen spesifik, reaktivitas emosional,  kewajaran, hubungan interpersonal yang dibangun, kebutuhan, harapan, kekikiran, kedermawanan, arogansi, kemerdekaan, dll.
Yang terbentuk sejak masa anak, remaja sampai dewasa dini, dan dipertahankan sepanjang kehidupan.

Kepribadian  terbentuk dan ada sebagai hasil interaksi antara faktor herediter dan kontak psikososial. Kepribadian merupakan kombinasi dari pikiran, emosi dan perilaku yang membuat seseorang unik, berbeda satu sama lain. dan juga bagaimana seseorang melihat diri sendiri.

Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan gangguan kepribadian merupakan istilah umum untuk suatu jenis penyakit di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.

Dalam beberapa kasus, kemungkinan penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian karena cara berpikir dan berperilaku tampak alami bagi si penderita, dan penderita mungkin  menyalahkan orang lain atas keadaannya.

Sehingga penderita yang mengalami gangguan kepribadian yang akut saja yang ditindak lanjuti dan diberi solusi penanganan oleh psikiater atau psikolog.  edangkan orang awam yang ingin mengetahui apakah kepribadian mereka mengalami gangguan, terkadang mengalami kendala bagaimana solusi untuk bisa berkonsultasi tanpa harus menemui seorang psikiater atau psikolog.

2. Rumusan Masalah

  1. Sebutkan dan jelaskan apa itu gangguan kepribadian !
  2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis gangguan kepribadian !

3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui apa itu gangguan-gangguan kepribadian.
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis gangguan kepribadian.

Contoh Pembahasan

source : My Archive

Pembahasan masalah merupakan inti dari semua makalah. Segala teori, metode penelitian  dan penjabaran atas penelitian dipaparkan dalam pembahasan. Pembahasan merupakan penjabaran dari teori-teori yang sudah kita ulas di dalam rumusan masalah.

Pada bagian ini data-data ilmiah yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif disajikan. Teori-teori dari para ahli digunakan untuk menguatkan gagasan. Apabila kita mengambil teori dari suatu referensi, kita harusmenuliskan sumber referensi tersebut dalam bentuk footnote maupun innote.

Semua asumsi yang ada dalam pembahasan ini harus didasarkan referensi yang berupa literatur maupun data empiris. Kita tidak diperbolehkan untuk mencantumkan gagasan kita sendiri yang bersifat objektif.

Berikut ini adalah contoh pembahasan yang dapat anda Best jobbers gunakan sebagai bahan referensi.

A.Gangguan-gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Gangguan-gangguan kepribadian disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya. Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan). Perlu juga diketahui bahwa:

(1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar;

(2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana.

B.Jenis-jenis Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.[1]  Gangguan-gangguan kepribadian  disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya.[2]

Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan).[3]

Perlu juga diketahui bahwa: (1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar; (2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana. Oleh karena itu pada statistik mereka digabung sebagai penghuni lembaga lembaga penjara. [4]

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa orang yang menderita gangguan-gangguan kepribadian memiliki pola tingkah laku yang maladaptif, tidak mampu menyesuaikan diri dan hal tersebut berlangsung lama. Pada dasarnya mereka tidak menyadari hal tersebut, karena mereka tidak merasa ada hal yang aneh dalam dirinya (merasa tidak sakit).

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of  Mental Disorders (DSM-IV) gangguan kepribadian dibagi ke dalam 3 kelompok besar, yaitu :

Kelompok A    :

Gangguan-gangguan pola kepribadian, orang-orang yang dianggap aneh atau eksentrik.  Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal;

Kelompok B    :

Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian antisosisal;

Kelompok C   :

Gangguan-gangguan sifat kepribadian, orang yang sering kali tampak cemas dan ketakutan. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian menghindar, dan obsesif-kompulsif, dependen, histrionik, narsistik..[5]

1.Gangguan-gangguan pola kepribadian

a.Gangguan kepribadian Paranoid

Kepekaan tajam dalam hubungan hubungan antar pribadi yang disertai dengan kecenderungan untuk memproyeksikan perasaan perasaan curiga, cemburu yang extrem, dan iri hati dalam hubungan hubungan itu merupakan ciri yang sangat khas dari kepribadian paranoid. Ia juga hypersensitive, rigid (kaku), anxious (pecemburu) dan argumentatif (suka berdebat).[6]

Mereka cenderung melihat diri sendiri sebagai yang baik, yang tidak memiliki cacat, dan jarang mampu melihat kekurangan dirinya, meskipun dia tahu. Mereka juga sangat sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Karena mereka hypersensitive, mereka akan cenderung tidak mempercayakan rahasia pribadi pada orang lain karena mereka yakin bahwa informasi pribadi akan digunakan untuk menyerang mereka.

b.Gangguan kepribadian Skizoid

Simtom utama gangguan kepribadian skizoid ialah tidak tertarik kepada orang lain atau hubungan hubungan sosial.[7] Dia sering sering kali digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, ia juga kehilangan minat pada hubungan sosial serta jarang memberikan respons terhadap orang lain.

Boleh dikatakan bahwa orang yang memiliki gangguan kepribadian skizoid adalah orang yang selalu menyendiri, tidak mampu memasuki hubungan-hubungan antar pribadi yang hangat. Mereka tampak selalu menjaga jarak, dan sikap acuh tak acuh terhadap pujian, kritikan atau perasaan orang lain. Wajah mereka cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, dan mereka jarang bertukar senyum sosial atau salam.

c.Gangguan kepribadian Skizotipal

Individu yanng mengalami gangguan skizotipal memiliki ciri-ciri khas skizofrenia. Orang yang menderita gangguan ini memiliki kepercayaan-kepercayaan yang aneh, secara sosial aneh dan terisolasi atau memperlihatkan tingkah laku eksentrik atau khas atau tidak memberi perhatian sedikitpun terhadap penampilanya.

Tetapimeskipunsimtom-simtomituadanamunorang yang mengalamigangguankepribadianskizotipal tetap berada pada posisi normal dalam garis yang memisahkan orang-orang normal dari skizofrenia.

d.Gangguan Kepribadian Perbatasan (borderline)

Gangguan kepribadian ini ciri utamanya adalah ketidakstabilan yang berat dalam tingkah laku, emosi, identitas, dan hubungan hubungan antarpribadi. Ketidakstabilan tingkah laku kelihatan dalam tingkah laku impulsif, dalam seks, makan, penyalahgunaan zat zat (obat-obat), dan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri (langkah-langkah bunuh diri, misalnya).

Ketidakstabilan itu juga terlihat  pada emosi yang terjadi tiba- tiba dan menderita depresi. Jadi, individu ini tidak hanya mengalami suatu gangguan tunggal, tetapi mengalami berbagai gangguan yang kemudian dinamakan gangguan perbatasan.

2.Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian

a.Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Karena dasarnya sama dengan psikopatologi, maka tipe gangguan sifat kepribadian ini dikelompokkan sebagai berikut: tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, dan tipe agresif.

Tipe pasif-dependen

Ciri-ciri khasnya ialah tidak berdaya, tidak tegas dan tergantung pada orang lain. Apabila mereka dituntut untuk memikul tanggung jawab atau mengambil prakarsa, mereka segera cemas dan panik.

Tipe pasif-agresif

Sikap pasif mereka hampir sama dengan tipe pasif-dependen, namun orang orang ini memiliki pola agresi yang halus dan tak langsung pada hubungan mereka dengan orang lain, mengungkapkan kebencian dengan cara mencibir, bersungut-sungut, keras kepala, tidak efisien, membuang-buang waktu atau berlengah-lengah. Mereka sering kali menghalangi kegiatan orang lain yang berhubungan dengan diri mereka dengan melawan secara pasif.

Dalam dunia digital masa kini, mereka inilah yang disebut dengan haters oleh sebagian besar netizen.mereka adalah orang-orang yang mengujar kebencian terhadap sesuatu tidak secara langsung.

Tipe agresif

Simtom utama penderita gangguan ini adalah emosinya cenderung tidak stabil dan anti sosial, memperlihatkan ledakan-ledakan kemarahan, dan bertingkah laku merusak respons terhadap frustasi-frustasi yang kecil sekalipun. Reaksi mereka dapat berbentuk perasaan dendam yang tidak sehat atau patologik. Bentuk-bentuk agresi mereka secara terbuka ialah menyebarkan desas-desus dan dengki.

Penderita gangguan ini tidak segan-segan menunjukkan kebencian ataupun kemarahan pada setiap hal yang mereka temui, sering merasa frustasi dengan keadaan, walau sekecil apapun permasalahan yang dihadapinya.

b.Gangguan kepribadian Obsesif Kompulsif

Orang orang dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki kebutuhan yang tinggi akan kesempurnaan, tata tertib dan kontrol; kehidupan mereka dikuasai oleh sifat yang teratur dan disiapkan dengan baik. Perhatian mereka yang berlebihan terhadap hal hal yang terinci menyebabkan mereka tidak dapat melihat “gambaran yang luas” dan mereka mungkin menghabiskan begitu banyak waktu pada aspek suatu masalah yang tidak berarti dan tidak penting.

Orang orang yang mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak mampu mengadakan hubungan antar pribadi yang bermakna karena mereka sangat terikat pada usaha supaya pekerjaan mereka teratur dan tidak memiliki waktu untuk persahabatan. Obsesi mereka akan kontrol menyebabkan pribadi mereka kaku, tidak hangat dan tidak dapat merasakan persahabatan yang hangat dan akrab.

Dalam kehidupan sehari-hari, gangguan kepribadian ini sering disebut juga over-perfeksionis, di mana mereka sangat terpaku pada kebutuhan akan kesempurnaan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Apa yang orang lain lakukan pasti gagal memenuhi harapan mereka, dan mereka memaksa diri untuk mengerjakan ulang pekerjaan tersebut.

c.Gangguan kepribadian yang menghindar (Avoidant)

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian yang menghindar sangat peka terhadap penolakan orang lain dan merasa terhina oleh penolakan itu. Karena mereka berpikir tentang penolakan, maka individu-individu ini menghindari hubungan dengan orang lain kecuali kalau ada jaminan bahwa mereka diterima tanpa dicela.

Individu dengan gangguan ini sebenarnya sangat ingin berelasi dengan orang lain, namun mereka malu dan sangat takut jika tidak diterima. Mereka juga memiliki perasaan rendah diri, tidak percaya diri, takut berbicara di depan publik atau meminta sesuatu dari orang lain. Mereka sering kali menyalah artikan komentar dari orang lain sebagai menghina atau mempermalukan dirinya

d.Gangguan kepribadian dependen

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian dependen membiarkan secara pasif orang lain mengambil keputusan yang penting untuk mereka. Ketidakmampuan individu-individu ini untuk mengambil keputusan dapat menyebabkan kecemasan dan depresi serta dapat mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu apabila mereka ditempatkan dalam peran-peran dan tugas-tugas yang memerlukan tanggung jawab atau kepemimpinan.

Dapat dikatakan pula sebagai  orang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk  diasuh oleh orang lain. Hal ini membuat mereka sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Mereka juga sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

e.Gangguan kepribadian histrionik

Ada tiga karakteristik individu yang mengalami gangguan kepribadian histrionik.  Pertama, orang seperti itu biasanya menarik mempesona, dan menggiurkan secara seksual. Namun bila orang orang lain mulai bersungguh-sungguh ia mundur dengan cepat. Kedua, individu ingin menjadi pusat perhatian dan sering bertindak dalam cara-cara yang sangat dramatis dan emosional untuk menarik perhatian.

Ketiga, walaupun memperlihatkan afek yang hebat, namun emosi dari individu histrionik sangat dangkal dan emosinya mungkin cepat sekali berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain atau dari positif ke negatif. Biasanya individu histrionik memiliki tingkah laku yang bersemangat , cenderung menonjolkan diri dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh lingkungan.

Namun, dia tidak mampu menciptakan hubungan yang mendalam dan menjaga hubungan dalam jangka waktu panjang.

f.Gangguan kepribadian narsisistik

Arketipe untuk gangguan kepribadian narsistik adalah Narcissus__sandiwara dalam mitologi Yunani__ yang jatuh cinta dalam bayangannya sendiri dalam kolam. Individu yang mengalami gangguan ini adalah orang yang merasa bahwa dirinya sangat penting dan ia dikuasai oleh fantasi-fantasi tentang keberhasilan, kekuasaan, kecerdasan, dan kecantikan.

Karena ia berfikir bahwa ia adalah orang yang istimewa, maka ia menuntut perhatian dan kekaguman terus menerus dari orang orang yang ada disekitarnya.

Individu ini memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian.

g.Gangguan kepribadian sadistik

Gangguan kepribadian sadistik digunakan untuk orang yang memperlihatkan suatu pola yang tetap untuk bersikap kejam dan agresif dalam respons terhadap orang lain. Individu yang mengalami gangguan ini memperoleh kesenangan dalam menyakiti atau menghina orang lain atau senang melihat serta terhibur oleh penderitaan orang orang lain.

h.Gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri

Individu dengan gangguan ini cenderung menghindari atau mengabaikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan masuk ke dalam hubungan-hubungan atau situaasi-situasi dimana ia akan menderita dan tidak membiarkan orang lain membantunya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa orang ini kelihatanya mencari kegagalan. Beberapa ahli teori mengemukakan bahwa individu yang bertingkah laku merusak diri sendiri berusaha untuk menghukum dirinya sendiri.

Individu dengan gangguan ini memiliki rasa percaya diri yang sangat minor. Dia terlalu tidak percaya pada dirinya sendiri dan menganggap kegagalan bersumber dari dirinya. Individu ini sangat rentan dengan depresi, tidak mampu bangkit dari kondisi tersebut dan ujung-ujungnya dia akan melampiaskannya perasaan tertekannya dengan melukai dirinya sendiri. Individu dengan gangguan ini sangat memiliki kecenderungan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara-cara yang tragis.

3.Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan kepribadian anti sosial adalah sebutan diagnosis untuk masalah yang akan dibicaarakan dalam bagian ini, tetapi individu yang mengalami gangguan ini biasanya disebut sebagai orang yang psikopat atau sosiopat. Orang yang didiagnosis sebagai orang yang megalami gangguan kepribadian antisosial adalah orang yang tidak memiliki kematangan emosi, kurang memiliki pertimbangan dan rasa tangguang jawab, tidak mampu menilai akibat akibat dari tingkah laku.

a.Simtom

Simtom simtom gangguan kepribadian antisosial dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yakni simtom suasana hati, simtom kognitif dan simtom motor.

1)Simtom suasana hati

Simtom pertama yang sangat penting dalam gangguan kepribadian antisosial adalah tidak ada kecemasan atau rasa bersalah. Simtom kedua ialah orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial hedonist (mencari kesenangan). Simtom ketiga adalah kedangkalan perassaan perassaan dan tidak ada cinta emosional

2)Simtom kognitif

Sesuatu yang penting diketahui adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian kelihatan sangat cerdas, memiliki keterampilan verbal dan sosial yang berkembang dengan baik dan memiliki kemampuan ini, maka kalau ia menemuai kesulitan maka dapat menemukan jalan keluar tapi merasionalisasikan tingkah laku yang tidak tepat sehingga kelihatanya masuk akal dan dapat dibenarkan.

3)Simtom motor

Karena orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak cemas, maka ia bertinngkah laku impulsif. Suatu hal yang menarik dari tingkah lakunya mencari sensasi yang tinggi. Orang dengan gangguan kepribadian ini melakukan kegiatan kegiatan yang berbahaya.

b.Penyebab

Tiga pendekatan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian antisosial, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, penddekatan fisiologis. Ketiga pendekatan itu akan dibahas secara rinci dalam bagian ini.

1)Pendekatan Psikodinamik

Terdapat dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial. Pertama, menggunakan pendekaatan struktural dari Freud terhadap kepribadian beberapa ahli mengemukakan karena kurang cemas dan kurang merasa bersalah karena ia tidak mengembangkan superego yang kuat.

Kedua, penjelasan psikoanalisis mengemukakan karena telah melekat pada tahap awal perkembangan psikoseksual artinya disebabkan karena kebutuhan kebutuhan akan cinta, dukungan dan penerimaan tidak dipuaskan oleh orang tuanya dan kegagalan dalam memuaskan kebutuhan kebutuhan ini menghalangi perkembangan ke tahap tahap berikuttnya.

2)Pendekatan belajar

Ada dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial, yakni teori kekurangan dalam pengondisian klasik dan teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Teori kekurangan dalam pengondisian klasik. Mengemukakan bahwa orang yang menderita gangguan antisosial tidak cemas karena ia tidak mampu mengembangkan respons respons kecemasan yang terkondidi secara klasik kurang (lemah).

Teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Mengemukakan bahwa anak anak itu menghindari hukuman yang menyusul tingkah laku yang tidak tepat dan dengan demikian menghindari kecemasan dan melenyapkan kekangan kekangan terhadap tingkah laku yang buruk.

3)Pendekatan fisiologis

Mengemukakan bahwa orang orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh “rangsangan neurologis yang kurang”. Rangsangan neurologis yang kurang itu digunakan untuk menjelaskan kecemasan yang relatif kurang yang kelihatan pada orang orang yang mengalami gangguan tersebut. Rangsangan elektrokortikal. Ini mengacu pada tingkat tingkataktivitas listrik pada otak dan aktivitas diukur dengan rekaman-rekaman EEG. Genetika.

Dalamkebanyakanpenelitian yang telahdifokuskan, padaherita- bilitasgangguankepribadianantisosial, tingkah

kriminal digunakan sebagai ukuran gangguan tersebut. Tetapi tingkah laku kriminal bukan satu satunya ukuran untuk gangguan itu dan karena tingkah laku kriminal bukan suatu ukuran yang baik, maka hasil hasil dari penelitian akan menyimpang.

4.Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan dan penyalahgunaan zat merupakan bentuk lain dari gangguan kepribadian. Pada umumnya, mereka yang melakukan penyalahgunaan zat dan mengalami ketergantungan, memiliki gangguan kepribadian. Ada beberapa kategori ketergantungan dan penyalahgunaan zat, diantaranya :

a.Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan zat psikoaktif, ditunjukkan dengan simtom-simtom di bawah ini :

Individu tidak dapat mengontrol penggunaan obat / zat tersebut;

Individu mengalami deteriorisasi tingkah laku; dan,

Individu mengalami simtom-simtom putus zat.

Penyalahgunaan zat psikoaktif, yaitu perilaku maladaptive yang dilakukan oleh seseorang akibat dari penyalahgunaan obat, dan bukan merupakan ketergantungan (kecanduan). aksi kebut-kebutan dalam kondisi mabuk, depresi dan memilih untuk mengonsumsi alkohol sebagai pelarian.

Gangguan mental organik disebabkan oleh terlalu banyak dari zat psikoaktif (psikotoksik). Contoh : penggunaan obat batuk cair dalam dosis tinggi dan jumlah yang banyak dapat

efek nge-fly (mabuk) dan halusinasi hebat dalam jangka waktu sampai berjam-jam. [9]

Jika ditilik lebih dalam,  diagnosis pertama adalah kondisi terparah dari gangguan mental akibat ketergantungan zat, dimana individu sudah tidak mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri. Perilaku ini cenderung lebih sulit disembuhkan, kecuali dengan rehabilitasi dan berada di lingkungan yang terisolir. Bahkan, bila tidak segera mendapatkan tindakan dapat berakibat fatal.

Dengan toleransi yang makin berkembang bukan tidak mungkin individu akan overdosis dalam penggunaan obat untuk efek yang dia inginkan, hal ini tidak jarang dapat menyebabkan kematian.

Pada diagnosis yang kedua dan ketiga, individu melakukan perilaku yang maladaptive dan kadang berbahaya, namun ada kemungkinan dapat disembuhkan lebih mudah karena individu masih memiliki control penuh atas dirinya, setelah efek obat tersebut berakhir.

b.Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan zat psikoaktif, yaitu : 1) ekspose media tentang zat psikoaktif; 2) faktor situasi individu, misalnya individu yang mengalami gangguan insomnia cenderung akan mengkonsumsi pil tidur dengan dosis berlebihan;

3) Karakteristik keluarga pada masa kanak-kanak; 4) faktor kepribadian antisosial dan depresif; 5) faktor genesis dan lingkungan (fisiologis).Menurut penelitian, Faktor lingkungan memiliki dampak yang sangat signifikan. Seseorang yang tinggal di lingkungan kondusif, memiliki kecenderungan jauh dari perilaku maladaptif dan penyalah gunaan zat psikoaktif, atau sebaliknya.[10]

c.Berbagai Macam Zat Psikoaktif dan Masalah yang timbul Akibat Ketergantungan dan Penyalahgunaannya

Ketergantungan terhadap pemakaian narkoba ini sangat berbahaya dikarenakan beberapa hal di bawah ini :

Otak dan syaraf dipaksa untuk bekerja di luar kemampuan yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak wajar.

Peredaran darah dikarenakan pengotoran darah oleh zat-zat yang mempunyai efek yang sangat keras, akibatnya jantung di rangsang untuk bekerja di luar kewajiban.

Pernapasan tidak akan bekerja dengan baik dan cepat lelah.

Penggunaan lebih dari dosis yang dapat ditahan oleh tubuh akan mendatangkan kematian secara mengerikan.

Timbul ketergantungan baik rohani maupun jasmani sampai timbulnya keadaan yang serius karena putus obat.[11]

Berdasarkan efeknya, zat psikoaktif dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu :

1)Depresan (Alkohol, Barbiturat dan Benzodiazepin)

Alkohol yang diminum berpengaruh pada penglihatan dan kesadaran, mengganggu kemampuan kognitif, meninggalkan alkohol dapat mengalami simtom putus alkohol berupa  traumatis yang berat hingga berujung kematian. Simtom putus alkohol yang pertama adalah agitasi dan kontraksi otot yang tidak terkendali, selanjutnya akan merasa mual, muntah dan bercucuran keringat disertai delirium.

Penggunaan barbiturate pada dosis tertentu akan menimbulkan efek simtom putus barbiturate. Simtom-simtomnya biasanya meliputi tremor, tegangan, kehilangan control motor, mual-mual, delirium berupa penglihatan dan pendengaran, dan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan kematian.

Narkotika (opium, morphin dan heroin)

Mereka yang terbiasa memakai zat yang berasal dari opiat umumnya mempunyai sugesti tinggi untuk menginginkannya terus menerus. Gejala lainnya adalah cemas, sulit tidur, tak punya nafsu makan, tak berani menatap mata lawan bicara dan seringkali disertai tindak kekerasan.[12]

Pemakaian dalam waktu lama akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi dari ketiga obat ini semakin lama semakin meningkat. Simtom pertama putus opiate adalah gelisah yang memicu agitasi dan kekerasan disertai panas dingin dan sesak nafas. Individu tidak dapat mengontrol motorik tubuh, kejang otot yang menyakitkan, diare dan berkeringat banyak. Individu menjadi lebih agresif dan cenderung berlaku bengis, berusaha melakukan apa saja untuk mendapatkan zat psikoaktif ini.

Pada dosis yang tinggi dia bisa menyayat-nyayat tangan dan meminum darahnya sendiri, karena darah itu telah bercampur dengan zat opiate. Simtom tingkat akhir adalah mengeluarkan busa dari mulut, gagal jantung dan kematian.

2)Stimulan (amfetamin, kokain, kafein, nikotin)

Penggunaan amfetamin dosis tinggi dapat menyebabkan euphoria berujung tingkah depresif, pembuluh darah otak juga bisa pecah karena tekanan darah meningkat drastis, mengalami simtom delusi seperti skizofrenia paranoid, dan cenderung berperilaku agresif.

Simtom-simtompenggunakokain yaitu dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada membran lendir dan dapat menyebabkan kematian. penggunaan kafein dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan agitasi, tegangan, iritabilitas, meningkatnya denyut jantung, kehilangan selera makan dan sakit kepala.

Efek nikotin dalam jangka waktu yang lama yaitu tremor otot, penyempitan pembuluh darah dalam kulit dan memicu beberapa penyakit seperti kanker paru-paru, jantung dan pembuluh nadi koroner.

3)Halusinogen (canabis, LSD, psilobin dan maskalin)

Ganja umumnya relatif jarang menimbulkan sugesti ketagihan. Sementara efek LSD pada kesehatan bisa mengganggu sistem pernafasan dan otak, terkena halusinasi dan menjadi paranoid. [13] Pengguna halusinogen dalam dosis tinggi menyebabkan perilaku maladaptif yang sangat merugikan. Misalnya, dia bisa saja melompat dari jendela atau atap gedung karena berhalusinasi bisa terbang.

Oleh karena itu, meskipun cenderung tidak menimbulkan efek ketagihan, namun halusinasi yang ditimbulkan sangat berbahaya. Apabila diteruskan maka lama-kelamaan akan merusak sistem kerja otak, mematikan pandangan terhadap kenyataan dan tidak jarang berakibat kematian.

 

[1] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, (Jakarta : Erlangga, 2005), hlm. 273

[2] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.17

[3] Fitri Fausiah, dan Julianti Widury, Psikologi Abnormal : Klinis Dewasa, (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2008) hlm. 142

[4] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.18

[5] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Op.Cit. hlm. 273

[6] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Abormal, (Bandung  : PT Refika Aditama,  2007), cet. 2, hlm. 117

[7] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.

[8] Yustinus Semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 43

[9]Yustinus semium, Kesehatan mental 2. (yogyakarta : kanisius, 2006). hlm .18-135

[10] Yustinus semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 121-124

[11] Fransiska Novita Eleanora, Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1, April 2011. Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

[12]  Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

[13] Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

Contoh Penutup

Source : My Archive

Setelah pembahasan selesai maka step terakhir dari Contoh Makalah Yang Baik dan Benar adalah membuat penutup. Penutup ini berisikan ringkasan-ringkasan dari pembahasan makalah yang sudah dituangkan dalam pembahasan. Jangan lupa pula Best Jobbers untuk membuat daftar pustaka yang berisikan literatur-literatur yang menjadi sumber referensi anda semua dalam menyusun makalah.

Kesimpulan

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Jenis-jenis Gangguan Kepribadian :

Gangguan-gangguan pola kepribadian : gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian skizoid , gangguan kepribadian skizotipal, gangguan kepribadian perbatasan (borderline).

Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian : gangguan kepribadian pasif-agresif (tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, tipe agresif), gangguan kepribadian obsesif kompulsif, gangguan kepribadian yang menghindar (avoidant), gangguan kepribadian dependen, gangguan kepribadian histrionik, gangguan kepribadian narsisistik,gangguan kepribadian sadistik, gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri.

Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan-gangguan seksual : homoseksualitas, parafilia, disfungsi-disfungsi seksual, gangguan identitas gender

Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ketergantungan zat psikoaktif, penyalahgunaan zat psikoaktif, gangguan mental organik.

Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ekspose media, faktor situasi, Karakteristik keluarga, faktor kepribadian antisosial dan depresif, faktor genesis

Berbagai Macam Zat Psikoaktif : Depresan,Narkotika, Stimulan, Halusinogen

DAFTAR PUSTAKA

  1. Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Abormal. cet. 2. Bandung: PT Refika Aditama

Eleanora, Fransiska Novita. 2011. Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1.Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

Fausiah, Fitri dan Julianti Widury. 2008. Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa. Jakarta : UI-Press

Nevid, Jeffrey S, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene. 2005 . Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, Jakarta : Erlangga.

Santoso, Topo dan Anita Silalah. 2000.  Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I

Semium, Yustinus.2006.Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar seperti itu bisa Best Jobbers semua dapatkan gambaran utuh dengan cara mendownload file yang sudah kami sediakan. Caranya, klik tombol download di bawah ini. Selamat mencoba, semoga sukses !


atau di sini 

Contoh Makalah Pendidikan

Dwi Saloka
9 min read

Contoh Makalah Sederhana

Dwi Saloka
14 min read

Contoh Makalah Singkat

Dwi Saloka
10 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *