Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Singkat-Halo Best Jobbers, selamat datang di portal https://bestjobaroundtheworld.com, portal keilmuan yang aktual tajam dan terpercaya.

Bagi Anda yang masih duduk di bangku sekolah atau perguruan tinggi tugas dalam bentuk makalah adalah sebuah kewajiban. Makalah merupakan suatu karya ilmiah, sudah tentu memiliki kerangka yang baku.

Banyak sekali contoh makalah singkat yang beredar di internet sekarang ini . Diantaranya masih banyak yang salah salah atau tepatnya masih belum sempurna. Tugas membuat makalah sangat menyita banyak waktu.

Seringkali pelajar maupun mahasiswa merasa terbebani olehnya dan hanya membuat makalah yang singkat saja. Berbagai artikel tentang contoh makalah singkat sangat dibutuhkan pelajar maupun mahasiswa.

Contoh makalah singkat yang baik dan benar lebih mengedepankan esensi dari pembahasan. Dalam artikel ini, saya akan memberikan contoh makalah singkat yang dapat Best Jobbers gunakan untuk pedoman dalam membuat makalah.

Contoh makalah singkat yang saya tuliskan di sini mudah-mudahan dapat membantu Best Jobbers dalam membuat sebuah makalah. Jangan lupa, di akhir artikel ini juga akan saya cantumkan link yang dapat anda gunakan untuk mendownload contoh makalah singkat dalam versi doc.

Simak sampai kalimat terakhir ya, Best Jobbers……

Baca juga : Contoh Makalah Yang Benar, Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Singkat Bertema Gender

source :Okezone Lifestyle

Di bawah ini saya akan memberikan contoh makalah singkat bertema Gender. Contoh makalah singkat ini merupakan tugas kuliah dari yang saya dapatkan dari kawan saya yang sedang menempuh pendidikan sarjana strata 1 (S1) di salah satu perguruan tinggi Islam negeri.

Kawan saya telah menghibahkan contoh makalah singkat ini kepada saya dan   memberikan izin untuk meng-share makalah ini di https://bestjobaroundtheworld.com. Simak lengkapnya di sini…

Contoh Bab I

source : Suara.com

Bab I berisi tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang dan rumusan masalah. Pendahuluan merupakan bagian awal dari sebuah makalah. Dalam contoh makalah singkat ini, saya menyertakan pendahuluan yang dapat Best Jobbers semua simak di bawah ini ……

Latar Belakang

Hakikatnya, semua mahluk diciptakan berpasangan. Pada manusia misalnya, ada laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan dalam derajat, harkat, dan martabat yang sama. Kalaupun memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, itu semua agar keduanya saling melengkapi.

Namun dalam perjalanan kehidupan manusia, banyak terjadi perubahan peran dan status atas keduanya, terutama dalam masyarakat. Proses tersebut lama kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya.

Dan berdampak pada terciptanya perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin.

Karena itu, masalah stereotip, subordinasi, marjinalisasi, beban ganda, dan kekerasan (terutama terhadap perempuan) seperti pelecehan s#ksual dan perdagangan perempuan (trafficking) telah berlangsung lama. Sama lamanya dengan perjalanan sejarah peradaban manusia.

Rumusan Masalah

Apa definisi gender?

Bagaimana bentuk-bentuk gender?

Apa faktor-faktor yang memengaruhi gender?

Bagaimana kondisi psikologis komunitas gender?

Bagaimana konseling untuk gender?

Contoh Bab 2

Contoh Makalah Singkat
source : ARTIKULA.ID

BAB 2 berisi pembahasan. Pembahasan merupakan inti dari makalah. Pembahasan berisi pemaparan-pemaparan teori, konsep dan asumsi para ahli.

Pembahasan merupakan pengembangan dari BAB I (pendahuluan). Lebih lanjut, untuk mengetahui pembahasan dalam contoh makalah singkat ini, mari Best Jobbers semua simak contoh pembahasan di bawah ini …..

Pengertian Gender

Para ilmuwan sosial mengkonsepsikan gender untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang tidak bersifat bawaan (kodrat) sebagai ciptaan Tuhan dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan dalam keluarga sejak usia dini.[1]

Kata gender secara etimologis dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris, yaitu ‘gender’. Apabila dilihat dalam kamus bahasa Inggris, tidak secara jelas dibedakan pengertian antara s#x dan gender.

Seringkali gender disamakan pengertiannya dengan s#x (jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan). Oakley mengemukakan bahwa gender adalah perbedaan atau jenis kelamin yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan.

Stoller mengartikan gender adalah konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia. Perbedaan biologis merupakan perbedaan jenis kelamin (s#x), dimana hal ini merupakan kodrat dari Tuhan.

Sedangkan gender merupakan behavioral differences (perbedaan perilaku) terkait tugas dan fungsi antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial budaya.

Maksudnya yaitu perbedaan yang bukan ketentuan Tuhan, melainkan dikonstruksikan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menjelaskan bahwa gender adalah peran dan fungsi yang dikontruksi masyarakat.

Tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang diharapkan masyarakat agar peran-peran tersebut dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan.

Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang berlaku dimasyarakat, serta ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.

Jadi gender adalah pembedaan antara perempuan dan laki-laki dalam peran, fungsi hak dan perilaku tanggung jawab yang dibentuk oleh ketentuan sosial dan budaya masyarakat setempat.[2]

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konstruksi atau bentuk sosial yang sebenarnya bukan bawaan lahir.

Sehingga secara implementasinya dilapangan dapat dibentuk atau diubah, karena gender bukan kodrat Tuhan yang bersifat permanen seperti s#x, melainkan hasil “buatan” manusia yang dapat dipertukarkan dan memiliki sikap relatif.

Bentuk-Bentuk GenderKetidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi kesenjangan dan ketimpangan atau tidak adil akibat dari sistem dan struktur sosial dimana baik perempuan maupun lelaki menjadi korban dari sistem tersebut.

Ketidakadilan gender terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang usia manusia.

Bentuk-bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender itu meliputi: marjinalisasi atau peminggiran perempuan, sub-ordinasi,  pandangan stereotype, kekerasan fisik, dan beban kerja.

Marjinalisasi atau Peminggiran Perempuan

Yang dimaksud dengan marjinalisasi dan peminggiran perempuan adalah proses, sikap, perilaku masyarakat maupun kebijakan negara yang berakibat pada penyisihan/pemiskinan bagi perempuan atau laki-laki.

Contoh-contoh marjinalisasi adalah: Banyak pekerja perempuan kurang dipromosikan menjadi kepala cabang atau kepala bagian dalam posisi birokrat. Begitu pula politisi perempuan kurang mendapat porsi dan pengakuan.

Peluang untuk menjadi pimpinan di lingkungan TNI (Jenderal) lebih banyak diberikan kepada lelaki. Sebaliknya banyak lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi lelaki seperti industri garmen dan industri rokok karena anggapan bahwa mereka kurang teliti.

Sub-ordinasi

Yang dimaksud dengan sub-ordinasi adalah suatu keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya.

Sehingga ada jenis kelamin yang merasa di-nomorduakan atau kurang didengarkan suaranya, bahkan cenderung dieksploitasi tenaganya.

Contoh-contoh sub-ordinasi adalah: Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak”, ”sekretaris”, atau ”perawat”, yang dinilai  lebih rendah.

Dibanding dengan pekerjaan lelaki seperti direktur, dosen di perguruan tinggi, dokter dan tentara. Hal tersebut berpengaruh pada pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan.

Sebagai seorang lelaki yang menjadi bawahan seorang perempuan, maka pola pikir seorang lelaki masih memandang bos perempuan tadi sebagai mahluk lemah dan lebih rendah. Sehingga lelaki bawahan merasa ”kurang maskulin”.

Pandangan Stereotype

Pandangan stereotype adalah suatu pelabelan atau penandaan yang sering kali bersifat negatif secara umum terhadap salah satu jenis kelamin  tertentu.

Contoh-contoh  stereotype  adalah: Tugas dan fungsi serta peran perempuan hanya melaksanaan pekerjaaan yang berkaitan dengan kerumahtanggaan atau tugas domestik.

Label kaum perempuan sebagai ”ibu rumah tangga” sangat merugikan  mereka jika hendak aktif dalam kegiatan lelaki seperti kegiatan politik,  bisnis maupun birokrasi.

Sementara label lelaki sebagai pencari nafkah utama (a main breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sambilan saja (a secondary breadwinner).

Sebagai akibat dari stereotipe, maka ketika jenis pekerjaan, profesi atau kegiatan di masyarakat  bahkan di tingkat pemerintahan dan negara yang dilakukan oleh perempuan hanyalah ”perpanjangan” dari peran domestiknya.

Misalnya karena perempuan dipekerjakan di bagian penjualan karena dianggap pandai merayu. Apabila seorang lelaki marah, maka dianggap tegas tetapi apabila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri.

Standar penilaian tersebut lebih banyak merugikan perempuan. Kekerasan Fisik Bentuk diskriminasi gender yang lain adalah kekerasan, yang dimaksudkan dengan kekerasan atau violence adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang.

Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti  perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik seperti pelecehan seksual, ancaman dan paksaan.

Pelaku kekerasan yang bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat individual seperti di dalam rumah tangga sendiri maupun ditempat umum dan juga di dalam masyarakat dan negara.

Contoh-contoh kekerasan gender anatara lain:

Menghina/mencela kemampuan seksual atau kegagalan karier pasangan,

Istri tidak boleh bekerja oleh suami setelah menikah,

Istri tidak boleh mengikuti segala macam pelatihan dan kesempatan meningkatkan SDM-nya,

Istri tidak boleh mengikuti kegiatan sosial di luar rumah,

Suami memukul dan menendang  istri,

Orangtua memukul dan menghajar anaknya.

Beban Kerja

Bentuk diskriminasi gender yang terakhir adalah beban kerja, yang dimaksud adalah peran dan tanggung jawab seseorang dalam melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari.

Contoh-contoh beban kerja adalah perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah  tangga,  sehingga bagi mereka yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan  domestik.

Dengan demikian perempuan melakukan beban ganda yang memberatkan (double burden).

Seorang ibu dan anak perempuannya mempunyai tugas untuk menyiapkan makanan dan menyediakannya di atas meja, kemudian merapikan kembali sampai mencuci piring-piring yang kotor.

Seorang bapak dan anak lelaki setelah selesai makan, mereka akan meninggalkan meja makan tanpa merasa berkewajiban untuk mengangkat piring kotor yang mereka pakai.

Apabila yang mencuci isteri, walaupun ia bekerja mencari nafkah keluarga ia tetap menjalankan tugas pelayanan yang dianggap sebagai kewajibannya. [3]

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gender

Menurut Mufidah, diskriminasi gender dalam berbagai bentuk yang terjadi pada perempuan secara umum disebabkan oleh berbagai hal, yaitu :

Budaya Patriarkhi. Yakni suatu sistem, kebudayaan yang bercirikan laki-laki (ayah), dimana laki-laki yang berkuasa untuk menentukan, mengatur dan mengambil segala keputusan.

Teks Agama,  Yang diintrepretasikan “bias gender”, hal ini disebabkan oleh pemahaman secara parsial dan tekstual, sehingga kurang mencerminkan “pesan-pesan” agama secara komprehensif dengan menghargai perempuan.

Atau metode penafsiran terhadap teks yang “kurang tepat” yang hanya bersifat tekstual bukan kontekstual, sehingga menghasilkan pandangan atau persepsi keagamaan yang bersiffat diskriminatif.

Kebijakan Pemerintah. Baik melalui peraturan perundang-undangan maupun manajemen pemerintahan yang kurang esponsive gender menyebabkan diskriminasi gender.[4]

Kondisi Psikologis Komunitas Gender

Pada umumnya orang yang mengalami diskriminasi gender mempunyai kondisi psikologis sebagai berikut :

Mengalami stress

Menurut Siagian, definisi stress adalah kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik sesorang. Orang-orang yang mengalami diskriminasi gender kondisi psikologisnya sangat tertekan dan dapat berakibat menjadi stress.

Sebagai contoh seorang perempuan yang bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, mereka juga harus mengerjakan pekerjaan domestik seperti membersihkan rumah, menyiapkan makanan dan mengasuh anak.

Banyak wanita berperan ganda mengakui bahwa secara operasional sulit untuk membagi waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan pekerjaannya (Izzaty, 1999).

Pekerjaan dan keluarga dapat menjadikan stress, stress dalam menghadapi peran gandanya tersebut, apalagi jika pekerjaan dan keluarganya memberi tekanan dalam waktu yang bersamaan.

Tidak adanya rasa percaya diri

Adanya budaya patriarkhi yang menimbulkan marginalisasi, stereotip dan subordinasi terhadap perempuan berakibat negatif pada diri perempuan yaitu hilangnya rasa percaya diri perempuan.

Ia tidak lagi  mengembangkan potensi yang dimilikinya karena anggapan dari masyarakat bahwa perempuan dinggap sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Trauma Korban dari tindakan kekerasan yang dialami seseorang secara psikologis dapat mengakibatkan trauma dan kecemasan.

Sebagai contoh kondisi psikologis korban KDRT, dilansir dari Kompasiana.com [5] bahwa seorang wanita korban KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri akan mudah cemas, karena kejadian demi kejadian yang dialaminya.

Kejadian kekerasan bisa muncul setiap hari dalam rumah tangganya. Munculnya kecemasan akibat korban kekerasan terhadap wanita yang dilakukan suaminya membuat korban tersebut mengalami trauma.

Trauma merupakan segala bentuk pengalaman yang melukai kondisi kejiwaan dan kerohanian seseorang.

Konseling dan Terapi Gender

Dalam beberapa literatur konseling dan psikoterapi, keberadaan gender menduduki tempat tersendiri. Beberapa istilah yang digunakan adalah unis#x, feminisme, maskulin, dan gemder itu sendiri.

Isu gender sudah lama muncul, bangkitnya feminisme dan tumbuhnya gerakan laki-laki telah meningkatkan perdebatan tentang peran laki-laki dan perempuan. Isu ini akhirnya merembes ke terapi, misalnya dalam asumsi-asumsi terkait gender yang dibawa terapis dan klien ke dalam kehidupan pribadinya, maupun ke dalam terapi.

Tujuan terapi untuk kedua jenis kelamin pada umumnya untuk membantu masing-masing klien menggunakan kekuatan dan potensinya. Membuat pilihan yang tepat guna, memperbaiki keterampilan yang buruk dan mengembangkan konsep diri yang positif dan fleksibel.

Di samping itu tujuan terapi yang berkaitan dengan peran gender sering kali bisa melibatkan kedua pasangan. Konseling feminis merupakan model terapi yang relatif baru.

Khusus tentang teori dan praktik konseling terhadap feminis, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, yaitu:

Pendekatan Integrasionis, yaitu menciptakan integrasionisme feminis yang terinformasikan dengan baik, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang diasosiasikan secara umum kepada pendekatan integratis dan feminis.;

Terapi Feminis model Stone Center yang dikembangkan oleh Miller merupakan suatu usaha untuk memahami dimensi psikologis ketidaksamaan sosial dan kekuasaan yang dialami oleh wanita.

Konsep inti dari model ini adalah relatedness (keterhubungan) dan self-in-relation (posisi diri dalam hubungan); Terapi feminis radikal, yang tertarik kepada lingkungan sosial dan material di mana wanita itu tinggal.

Konseling feminis bermaksud memberdayakan orang dan mengembangkan rasa percaya diri yang lebih besar dan kontrol atas kehidupannya.

Tujuan terapi untuk laki-laki dapat mencakup paling tidak tiga isu yang diidentifikasi dalam gender-role-conflict-scale, yaitu kebutuhan eksesif untuk sukses, kekuasaan dan persaingan.

Emosionalitas yang terbatas dan perilaku kasih sayang yang terbatas di antara kaum laki-laki. Munculnya gerakan yang mengatasnamakan gender, mempengaruhi pendekatan yang ada dalam konseling secara umum untuk ikut serta memecahkan persoalan tersebut.

Banyak terapis laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakan terapi dengan fokus yang lebih besar untuk menyembuhkan distress psikologis yang berasal dari sosialisasi peran gender yang restriktif dan seksisme.

Pendekatan psikodinamik oleh Jung lebih menekankan pentingnya feminitas dari pada Freud. Jung mengakui pentingnya arketip ibu, yang tampak pada banyak aspek.

Di samping itu Jung menganggap manusia biseksual secara psikologis, bahwa laki-laki memiliki anima (personifikasi sifat feminin) dan perempuan memiliki animus (personifikasi sifat maskulin).

Psikologi Jungian menyediakan dasar untuk mengeksplorasi isu-isu peran gender dengan tingkat kesadaran yang bervariasi. Pendekatan humanistik dapat digunakan dan diadaptasikan untuk menangani isu-isu peran gender.

Klien dalam terapi person centered dapat mengalami dan mengeksplorasi isu-isu yang berhubungan dengan sosialisasi peran gender sebelumnya, isu-isu peran gender saat ini serta konflik-konflik dalam iklim emosional yang aman dan terpercaya.

Terapis gestalt dapat menggunakan intervensi-intervensi, seperti eksperimen kesadaran, penggunaan kursi kosong dan analisis mimpi untuk memfokuskan pada pembelajaran peran gender .

Di samping itu, dalam analisis transaksional, terapis dapat membantu klien untuk mengeksplorasi petunjuk skrip tentang perilaku-perilaku peran gender dan mencapai kebebasan memilih untuk membuang hal-hal yang bersifat merusak.

Pendekatan behavioristik juga memberikan fokus pada isu-isu peran gender. Misalnya dalam rasional emotif, keyakinan irrasional terkait gender dapat dideteksi, didispute (diperdebatkan) dan dibuang atau disajikan kembali menjadi lebih rasional.

Dalam kognitif terapi, terapis dan klien dapat mengidentifikasi dan mempertanyakan realitas pikiran-pikiran otomatis terkait gender yang mengacaukan fakta dengan inferensi.

Bilamana perlu, terapis dapat bekerja bersama klien untuk mengganti pikiran-pikiran otomatis sebelumnya yang seksis dan self oppressing (menindas diri) dengan pikiran yang sadar dan realistis.[6]

Contoh Bab 3

source : Kompasiana.com

Contoh makalah singkat yang baik dan benar selalu berisi 3 bab. Bab 1 adalah pembahasan, bab 2 pembahasan dan bab  3 merupakan penutup. Dalam bab 3, penulis mencantumkan 2 subbab yaitu kesimpulan dan saran.

Di bawah ini contoh kesimpulan dan saran dari contoh makalah singkat bertema gender. Silahkan dicermati…..

Kesimpulan

Gender adalah suatu konstruksi atau bentuk sosial yang sebenarnya bukan bawaan lahir, sehingga secara implementasinya dilapangan dapat dibentuk atau diubah.

Gender bukan kodrat Tuhan yang bersifat permanen seperti s#x, melainkan hasil “buatan” manusia yang dapat dipertukarkan dan memiliki sikap relatif. Bentuk-bentuk gender yaitu marjinalisasi atau peminggiran perempuan, Sub-ordinasi, Pandangan Stereotype.

Kekerasan fisik, beban kerja, Faktor-faktor yang memengaruhi gender disebabkan oleh berbagai hal yaitu: budaya patriarkhi, teks agama, kebijakan pemerintah.

Pada umumnya orang yang mengalami diskriminasi gender mempunyai kondisi psikologis sebagai berikut yaitu, mengalami stress, tidak memiliki rasa percaya diri dan adanya rasa trauma.

Pemberian konseling terhadap komunitas gender yang terdiskriminasi bisa dengan menggunakan pendekatan psikodinamik, pendekatan humanistic, dan pendekatan behavioristic.

Saran Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih menjelaskan secara detail tentang pembahasan makalah. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Riant. 2008. Gender dan Strategi Pengarusutamaan di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Utaminingsih, Alifiulahtin. 2017. Gender dan Wanita Karir. Malang: Universitas Brawijaya Press.

Wahjono. Sentot Imam. Gender Problem in Family Business. Jurnal Balance. Vol No. 6 (2010)

Mufidah, Pengarusutamaan Gender Pada Basis Keagamaan Pendekatan Islam,Strukturasi &Konstruksi Sosialo, UIN-Malang Press,2009

Qibtiyah, Maryatul. “Peran Konseling Keluarga Dalam Menghadapi Gender Dengan Segala Permasalahannya”. Jurnal SAWWA-Vol. 9, No. 2, (April 2014)

Https://www.kompasiana.com/rumahshine/55004715813311791bfa747c/abuse-menyebabkan-wanita-mudah-mengalami-kecemasan, diakses pada tanggal 21 November 2018 Pukul 13.11

footnote :

[1] Riant Nugroho, Gender dan Strategi Pengarusutamaan di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 17-18

[2] Alifiulahtin Utaminingsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017), hlm. 2-5.

[3] Sentot Imam Wahjono. “Gender Problem in Family Business. Jurnal Balance. Vol No. 6 (2010), hlm. 273-274.

[4] Mufidah, Pengarusutamaan Gender Pada Basis Keagamaan Pendekatan Islam,Strukturasi &Konstruksi Sosialo, UIN-Malang Press,2009.Hlm.9

[5] https://www.kompasiana.com/rumahshine/55004715813311791bfa747c/abuse-menyebabkan-wanita-mudah-mengalami-kecemasan, diakses pada tanggal 21 November 2018 Pukul 13.11

[6] Maryatul Qibtiyah. “Peran Konseling Keluarga Dalam Menghadapi Gender Dengan Segala Permasalahannya”. Jurnal SAWWA-Vol. 9, No. 2, (April 2014) hlm. 375-378

Demikianlah contoh makalah singkat ini. Semoga dapat menambah khazanah keilmuan Best jobbers semua. Seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya menyediakan link untuk mendownload format asli (doc) dari contoh makalah singkat ini.

Caranya cukup dengan klik tombol download di bawah ini :

Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Pendidikan

Dwi Saloka
9 min read

Contoh Makalah Sederhana

Dwi Saloka
14 min read

Contoh Makalah Yang Benar

Dwi Saloka
13 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *